- PT Pertamina Gelar Program Sekolah Alam Anak Pesisir
- Luhut Yakin Negara Indonesia Jadi Pusat Investasi Dunia
- KKP Kembangkan Program Sisa Pengolahan Ikan Menjadi Ekonomi Baru, Simak Penjelasannya
- Blibli Gandeng Generasi Z Untuk Jalani Gaya Hidup Ramah Lingkungan
- Presiden Prabowo Subianto Resmi Teken Perpres Tata Kelola KDMP
PT Pertamina Gelar Program Sekolah Alam Anak Pesisir
Berita Terkini – Seperti yang kita tahu, saat ini pemerintah sedang berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi isu krisis lingkungan di negara Indonesia.
Sebagai informasi bahwa krisis lingkungan bukan terjadi di negara Indonesia saja, melainkan sejumlah negara di dunia juga sedang mengalami krisis lingkungan seperti yang kita alami.
Definisi dari krisis lingkungan sendiri ialah kondisi dimana ekosistem bumi mengalami kerapuhan dan kerusakan akibat aktivitas manusia yang mengancam keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup.
Dampak negatif yang akan ditimbulkan dari adanya kerusakan lingkungan sendiri ialah meliputi, perubahan iklim akibat emisis gas rumah kaca, kesulitan akses air bersih, dan kepunahan flora dan fauna.
Aktivitas manusia yang dapat menyebaban kerusakan lingkungan sendiri ialah seperti penebangan pohon secara liar, pembakaran hutan, penangkapan ikan secara masif, penambangan liar yang tidak berizin serta tidak mempunyai kepedulian lingkungan, dan membuang sampah sembarangan.
Contoh kerusakan lingkungan yang telah terjadi di sejumlah negara ialah negara Indonesia yang mencemari udara ekstrim di Asia Selatan hingga deforetasi dan pencemaran tambang, Pakis-India-China menjadi kawasan dengan konsentrasi udara paling berpolusi tinggi di dunia diakibatkan karena tingginya aktivitas industri-kendaraan-cuaca,dan Australia mengalami kerusakan ekosistem yang sangat parah akibat meningkatnya suhu darat dan kebakaran hutan.
Oleh karena adanya kerusakan lingkungan tersebut, maka PBB dan pemerintah Indonesia telah resmi menggelar program CSR (Corporate Social Responsibility) dan SDGs (Sustainable Development Goals).
CSR Sendiri mempunyai arti yakni tanggung jawab sosial. Sedangkan, SDGs mempunyai arti yakni tujuan pembangunan berkelanjutan.
Tujuan utama dari adaya CSR yakni untuk menyadarkan para perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta agar lebih peka tentang sosial dan lingkungan, jadi perusahaan tidak hanya berfokus terhadap peningkatan laba saja, melainkan perusahaan juga harus peduli mengenai dampak sosial dan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas perusahaan.
Selanjutnya, tujuan utama dari adanya SDGs yakni untuk mengentaskan kemiskinan, kelaparan, melindungi planet bumi, dan memastikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia pada tahun 2030.
Karena tingginya kasus kerusakan lingkungan di negara Indonesia, maka dari itu pemerintah dengan tegas telah mengeluarkan penilaian PROPER kepada seluruh perusahaan di Indonesia, PROPER merupakan penilaian suatu perusahaan tentang ketaatan dalam mengimplementasikan program CSR dan SDGs.
Salah satu perusahaan di negara Indonesia yang telah mempunyai nilai PROPER terbaik yaini adalah PT Pertamina Patra Niaga.
Hal tersebut dikarenakan pihak Pertamina telah menggelar sejumlah program berkelanjutan yang berdampak positif terhadap sosial dan lingkungan.
Salah satu program unggulan Pertamina ialah program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Program tersebut menghadirkan pendekatan pada anak-anak untuk memberdayakan dan mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan data yang ada, maka program tersebut telah mempunyai 135 penerima manfaat yang menjadikan alam sebagai ruang belajar anak-anak.
Penjelasan Pertamina

VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasat mengatakan, harapan utama dari adanya program belajar Sekolah Alam Anak Pesisir yakni adalah agar para anak-anak sudah mengenal dan mencintai lingkungan sejak dini, mampu mengembangkan kreativitas untuk kepedulian lingkungan, dan mampu meningkakan kemampuan dan pemahaman dalam mengembangkan perekonomian berbasis lingkungan berkelanjutan.
Dian Hapsari Firasat menjelaskan, pada pelaksanaannya, program belajar anak-anak pesisir telah menggelar penanaman 4.500 bibit mangrove untuk keperluan reboisasi serta rehabilitasi lingkungan pesisir, menciptakan penyimpanan karbon sekitar kurang lebih 80,763 ton COâ‚‚ per hektare, dan dari program tersebut telah terdapat sekitar 1.772 peserta yang telah terlibat, dan dengan jumlah kunjungan sekitar 860 kunjungan per tahun ke destinasi edukasi mangrove.
Program pembelajaran anak-anak pesisir juga menggunakan konsep pendekatan 3E (Education, Environment, Empowerment), dan anak-anak yang terlibat dalam kegiatan program tersebut ialah meliputi anak usia TK hingga SMP.
Dian Hapsari Firasat berharap dengan adanya program tersebut, maka mereka anak-anak pesisir dapat bertumbuh menjadi anak yang hebat, generasi bangsa yang penuh dengan inovasi dan kepedulian lingkungan yang berkelanjutan.
Disisi lain, Dian Hapsari Firasat juga menghimbau kepada seluruh perusahaan BUMN maupun Swasta untuk turut mengimplementasikan program CSR dan SGDs Pemerintah, karena pada dasarnya lingkungan adalah anugerah yang harus dijaga, dilindungi, dan dilestarikan.